Nabi Adam memanjatkan syukur kepada Allah dan menjalankan bisikan gaib tersebut. Saat Nabi Adam mengambil bayi dari dalam cupu dan menggendongnya, tiba-tiba datang badai (angin kencang) yang akhirnya menerbangkan cupu tempat bayi hingga jatuh ke tengah Samudera (Samudera Hijau). Suatu saat cupu itu diambil oleh Ijazil (Iblis). Nabi Syits yang telah menjadi dewasa, lalu mendapatkan jodoh dari Allah berupa bidadari bernama Dewi Mulat.

Ijazil (Iblis) yang telah mengetahui sebelumnya bahwa kelak di kemudian hari keturunan Adam akan sangat dikasihi Allah, Maka Ijazil (Iblis) memohon kepada Allah agar dirinya diberikan kebebasan dalam menggoda anak cucu Adam untuk dijadikan sekutunya saat hari pembalasan kelak. Ijazil (Iblis) memohon supaya keturunannya bisa disatukan dengan keturunan Adam dengan maksud agar dirinya lebih mudah mempengaruhi keturunan Adam yang tidak memiliki ketaqwaan terhadap agama Allah.

Do’a Ijazil (Iblis) dikabulkan, kemudian anaknya yang bernama Dlajah, dicipta/dibuat mirip dengan Dewi Mulat untuk menggantikan istri Nabi Syits tersebut. Dan Dewi Mulat untuk sementara waktu disembunyikan secara ghaib. Setelah beberapa waktu pertukaran yang dilakukan secara licik oleh Ijazil (Iblis), dan lalu mengetahui nutfah Nabi Syits telah jatuh di telanakan (rahim) Dlajah, maka cepat-cepat Ijazil (Iblis) mengambil dan membawa pulang kembali Dlajah, dan Dewi Mulat pun dimunculkan kembali.

Tepat pada waktu julungwangi atau saat matahari terbit, Dewi Mulat melahirkan anak kembar, hanya saja yang satu berwujud bayi laki-laki (manusia) dan yang satunya berwujud Cahya (Nur).

Selang waktu yang hampir bersamaan, tepatnya pada waktu julungpujut atau saat matahari tenggelam, Dlajah juga melahirkan anak. Namun yang dilahirkan oleh Dlajah adalah Asrar (daya hidup yang memancarkan cahaya), berkilauan laksana embun pagi.

Selanjutnya Asrar tersebut dibawa Ijazil (Iblis) ke Kusniyamalebari secara sembunyi-sembunyi dan dipersatukan dengan anak Nabi Syits dan Dewi Mulat yang berwujud Cahya (Nur). Secara ajaib berubah menjadi laksana bayi laki-laki yang masih diliputi cahaya dan tidak dapat dipegang, kemudian Ijazil (Iblis) meninggalkannya.

Nabi Adam memberi nama kepada anak-anak Nabi Siyts dan Dewi Mulat. Anak laki-laki yang berwujud manusia diberi nama Anwas (Nasa), sedangkan anak yang berwujud bayi laki-laki yang diliputi cahaya (persatuan antara anak Dewi Mulat dan anak Dlajah dalam wujud cahaya) diberi nama Anwar.

Sayid Anwas sangat tekun beribadah kepada Allah SWT, kelak suatu saat ia akan menurunkan para nabi hingga akhir zaman. Sedang Sayid Anwar sangat gemar berkelana dan menyepi diri hingga suatu saat ia bertemu dengan Ijazil (Iblis) dan berguru kepadanya.

Sayid Anwar mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dari Ijazil (Iblis). Ia bisa berubah sebagai laki-laki atau perempuan (mencala putra – mencala putri), ia pun bisa menghilang dan kasat mata (tidak bisa di-indera). Juga bisa terbang ke angkasa, masuk ke dalam perut bumi dan bernafas di dasar samudra.

Ketika Sayid Anwar pulang dan bertemu Nabi Adam, maka kakeknya melihat perubahan pada perilaku cucunya itu. Nabi Adam paham bahwa perubahan itu dikarenakan ulah Ijazil (Iblis), dan berkata kepada Nabi Syits, bahwa kelak Sayid Anwar akan murtad dari ajaran agama yang dipeluk kakek dan ayahnya.